Posted in Motivation

Anak Rantau

2017_0304_21520500

Enggak terbesit sama sekali bahwa aku akan tinggal di tempat yang jauh dari keluarga, merantau keluar pulau jawa. Dunia kerja menjadi hal baru bagiku. Seiring dengan aku lulus kuliah. Akhirnya tanpa membuang banyak waktu, aku mendapat pekerjaan yang mengharuskan aku ditempatkan di seluruh Indonesia.

Aku memang pernah berdoa. Berdoa agar aku merantau jauh dari kota yang membuatku patah, Bandung. Agar aku bisa mengobati hati dan menata kehidupanku. Akhirnya Tuhan mendengarkan doaku. Tuhan tahu sekali bahwa aku membutuhkan kehidupan baru. Tuhan tahu bahwa aku perlu untuk selalu dekat dengannya.

Sebulan di Pekanbaru lebih banyak nangisnya daripada bersyukurnya. Lebih banyak merajuk ingin pulang ke Jawa daripada menyusun rencana. Banyak sekali kesulitan yang aku alami. Susah makan dan terkendala transportasi. Jujur saja aku tidak begitu menyukai masakan Sumatra, terlalu banyak santen. Selama 3 bulan lebih banyak makan gak sehat seperti junkfood, baso, mie ayam, penyet.

Barulah setelah berhasil pulang kampung untuk melepas rindu dan kembali ke Pekanbaru, aku merasakan bagaimana rasanya merantau dan pulang kampung yang benar-benar pulang kampung.

Merantau memberiku kekuatan, keberanian, dan kemandirian yang bahkan sampai saat ini aku tidak menyangka aku bisa melakukannya.

Kemana-mana sendiri naik motor. Gak perlu ngerepotin orang lain. Padahal dulu saat kuliah sering banget ngerepotin banyak temen. Terimakasih yaa buat teman-teman Kuliah, teman-teman SMA, SMP, SD bahkan yang sudah banyak membantu.

Sekarang aku menikmati kemandirian dengan banyak hal positif, lebih banyak bereksperimen makanan karena masak sendiri. Sering bawa bekal ke kantor atau ke kampus, belajar berhemat dan belajar untuk jadi istri yang baik. 😀

Terlepas dari itu, berhati-hatilah jika ditempat rantau. Kenali daerahnya. Jangan sampai sepertiku. Kena jambret. Handphone ilang. Alhamdulillah hanya handphone yang diambil. Aku teledor karena pulang malem dari kantor ke kostan jalan kaki. Main handphone di pinggir jalan. Eh diambil sama orang. Direbut dengan mudahnya. Padahal kondisi jalanan ramai. Aku memang setiap hari jalan kaki. Ya mungkin peringatan saja untuk selalu aware dimanapun.

Semenjak itulah aku memberanikan diri untuk mengendarai motor. Berawal dari situlah kemandirianku bertambah.

Aku merasakan bagaimana pedihnya jadi anak rantau adalah ketika handphone ilang, uang sedikit gara-gara dipake buat bayar kuliah, dan kostan mahal. Gajian masih lama. Benar-benar sabar banget nunggu gajian buat beli handphone baru. Gajian tiba dipake beli handphone, bayar kostan, langsung ludes. Sebulan bertahan dari godaan makanan elit dan dari godaan shopping.

Satu hal yang aku selalu ingat dimana pun adalah jangan lupa shalat, jangan lupa untuk selalu berdoa pada Allah SWT. Ditempat yang jauh dari keluarga, kepada siapa lagi kita minta tolong kalau bukan sama Tuhan sendiri?

Begitulah sedikit cerita dari anak rantau. Bagaimana ceritamu?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s